Mentalitas Seorang Mukmin Dalam Kehidupan
Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.
Mari kita becermin dari kisah Nabi Yunus AS. Beliau ketika lari meninggalkan dakwah untuk kaumnya--karena marah kepada mereka, yang dinilainya tidak memenuhi seruan agama Tauhid--ternyata berhadapan dengan masalah yang lebih berat.
Ia ditelan ikan besar dan berada lama dalam perut ikan itu. Pada akhirnya, Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya menyelamatkannya (QS Al Qalam [68]: 48-50).
Ada hikmah yang bisa dipetik dari kehidupan Nabi Yunus 'alaihi salam.
Pertama, seberat dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapi, seorang Mukmin sewajarnya tidak mengenal kata putus asa atau frustrasi. Putus asa dari rahmat Allah hanyalah sifat orang-orang yang tidak beriman.
Perhatikan firman-Nya ketika mengisahkan optimisme Nabi Ya'qub untuk bertemu dengan dua putranya (Nabi Yusuf dan Bunyamin) yang sudah lama tidak dijumpainya.
Seperti diketahui, Nabi Yusuf pernah dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya dan lantas dibiarkan sendiri sampai akhirnya ada orang yang menyelamatkan Nabi yang berparas ganteng itu.
Kendati demikian, Nabi Ya'qub tak pernah frustrasi. Optimisme Nabi Ya'qub itu tampak dalam ucapannya: "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS Yusuf [12]: 87).
Ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang Mukmin secara kontinu apabila ingin memiliki kemampuan di dalam mengatasi masalah hidupnya.
Pertama, berusaha menjaga dan memelihara shalatnya dengan sebaik-baiknya. Seorang Mukmin pun hendaknya berupaya menerapkan nilai dan hikmah Islam di tengah-tengah kehidupannya.
Ada banyak bentuk penerapan itu, seperti kejujuran, kebersihan, ketaatan, dan kasih sayang kepada sesama manusia--terutama dari golongan yang lemah, fakir, dan miskin.
Kedua, seorang Mukmin mesti menyadari dengan sungguh-sungguh, di balik tiap kesulitan akan selalu ada kemudahan. Ini tentu asalkan ia tetap mau berikhtiar, mengerahkan kemampuan yang ada, disertai dengan penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT.
Firman Allah dalam surah Alam Nasyrah [94]: 5-6, artinya, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Mentalitas seorang mukmin Seorang Mukmin Bagaikan Lebah
Perumpamaan Seorang Mukmin Bagaikan Lebah
Dari Abdullah bin Amru radhiallahu’anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)
Itulah mukmin bagaikan lebah, ia hanya memakan yang halal dan menjauhi makanan yang haram.
Ia selalu mengeluarkan ucapan dan perbuatan yang baik dan bermanfaat sebagimana lebah yang mengeluarkan madu yang bermanfaat untuk manusia.
Dimanapun ia berada, tak pernah berbuat kerusakan. Bahkan ia menjadi pintu pintu pembuka kebaikan untuk manusia.
Ia selalu rajin berusaha dan tak pernah malas. Ulet dan tak pernah menyerah. Bahkan ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain.
Penjelasan Ulama Tentangnya
Al Munawi rahimahullah berkata:
: “ووجه الشبه: حذق النحل، وفِطنته، وقلة أذاه، وحقارته، ومنفعته، وقنوعه، وسعيه في النهار، وتنزُّهه عن الأقذار، وطيب أكله، وأنه لا يأكل مِن كسب غيره، وطاعته لأميره، وأن للنحل آفاتٍ تقطعه عن عمله، منها: الظلمة، والغَيْم، والريح، والدخَان، والماء، والنار، وكذلك المؤمن له آفات تُفقِره عن عمله؛ ظلمة الغفلة، وغَيْم الشك، وريح الفتنة، ودخَان الحرام، ونار الهوى
“Sisi kesamaannya adalah bahwa lebah itu cerdas, ia jarang menyakiti, rendah (tawadlu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qona’ah), bekerja di waktu siang, menjauhi kotoran, makananya halal nan baik, ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain, amat taat kepada pemimpinnya, dan lebah itu berhenti bekerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air dan api. Demikian pula mukmin amalnya terkena penyakit bila terkena gelapnya kelalaian, mendungnya keraguan, angin fitnah, asap haram, dan api hawa nafsu.” (Faidlul Qadiir, 5/115)
Ada Empat Karakter Lebah yang Seperti mentalitas seorang mukmin
Sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaiman firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 68 :
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl : 68)
Sifat-Sifat Lebah
- Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih
Lebah hanya hinggap ditempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang lain amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah tidak, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitu lah pula sifat seorang mukmin, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 172)
- Mengeluarkan yang bersih
Lebah mengeluarkan madu, dan madu mempunyai khasiat kesehatan untuk manusia. Dia produktif dengan kebaikan, dan hasilnya dapat bermanfaat bagi mahluk lain. Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.
- Tidak merusak
Seperti yang disebutkan di atas, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang ia hinggapi. Begitu pula seorang mukmin, setidaknya ia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apapun baik material atau pun non-material.
- Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai untuk menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa tergangggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan kehormatan umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya ditubuh pihak yang diserang. Sifat ini pun setidaknya perlu dimiliki oleh seorang mukmin.
Itulah karakter karakter lebah yang yang Seperti mentalitas seorang mukmin.
Sungguh, tidaklah sia-sia Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Qur’an sebagai salah satu nama surah, yaitu An-Nahl.





0 komentar