Puluhan ribu massa penjemput Imam Besar Front Pembela Islam(FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab sudah menunggu di Bandara Soekarno-Hatta,
Cengkareng.
Ribuan massa berada Terminal III pintu kedatangan
internasional.
Hari ini, HabibRizieq Syihab dijadwalkan tiba di Indonesia. Habib Rizieq telah meninggakan
Tanah Air dan tinggal di Arab Saudi selama tiga setengah tahun.
Habib Rizieq bertolak dari Arab Saudi ke Indonesia
menumpangi pesawat Saudia pukul 19.30 waktu setempat. Pesawat yang ditumpangi
Habib Rizieq diperkirakan akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 10
November sekitar pukul 09.00 WIB.
Detik-detik Habib Rizieq Tiba Ditanah Air | Ahlan wa sahlan Ya Habibana
"Saya kurang paham, tapi sesuai jam terbang, sudah di
pesawat," kata Panglima Laskar Pembela Islam (LPI) Maman Suryadi, saat
dikonfirmasi soal keberangkatan Rizieq, Senin (9/11/2020) malam.
Habib Rizieq dikabarkan pulang ke RI bersama keluarga. Maman
menambahkan Habib Rizieq juga didampingi tim dari FPI.
Biografi Muhammad Rizieq Shihab
Habib Rizieq adalah anak kelima dari lima bersaudara[1], ia lahir di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1965 dari pasangan Habib Hussein bin Muhammad Shihab dan Syarifah Sidah Alatas[3]. Kedua orangtuanya merupakan orang Betawi keturunan Hadhrami[4]. Ayahnya, Habib Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Shaikh bin Muhammad Shihab (lahir sekitar 1920)[5] adalah salah seorang pendiri Gerakan Pandu Arab Indonesia yang didirikan bersama teman-temannya pada tahun 1937[6].
Pandu Arab Indonesia adalah sebuah perkumpulan kepanduan yang didirikan oleh orang Indonesia berketurunan Arab yang berada di Jakarta, yang selanjutnya berganti nama menjadi Pandu Islam Indonesia (PII)[4]. Ayahnya wafat pada tahun 1966 saat Rizieq berusia 11 bulan, sehingga sejak saat itu ia hanya diasuh oleh ibunya, Syarifah Sidah, dan tidak dididik di pesantren.
Baru setelah berusia empat tahun ia mulai rajin mengaji di masjid-masjid dekat rumahnya. Sebagai orang tua tunggal, ibunya yang bekerja sebagai penjahit pakaian dan perias pengantin juga sangat memperhatikan pendidikan Rizieq serta membimbingnya dengan pendidikan agama.
Rizieq adalah seorang Habib atau Sayyid dengan klan Shihab (merujuk pada Shihabuddin Aal bin Syech) yang silsilahnya dapat ditelusuri sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib melalui Imam Ahmad al-Muhajir. Sementara itu, istrinya yang bernama Syarifah Fadhlun juga merupakan keluarga Sayyid dari klan Aal bin Yahya.[5] Wikipedia >>
Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.
Mari kita becermin
dari kisah Nabi Yunus AS. Beliau ketika lari meninggalkan dakwah untuk
kaumnya--karena marah kepada mereka, yang dinilainya tidak memenuhi seruan
agama Tauhid--ternyata berhadapan dengan masalah yang lebih berat.
Ia ditelan ikan besar dan berada lama dalam perut ikan itu.
Pada akhirnya, Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya menyelamatkannya (QS
Al Qalam [68]: 48-50).
Ada hikmah yang bisa dipetik dari kehidupan Nabi Yunus
'alaihi salam.
Pertama, seberat dan sekompleks apa pun masalah yang
dihadapi, seorang Mukmin sewajarnya tidak mengenal kata putus asa atau
frustrasi. Putus asa dari rahmat Allah hanyalah sifat orang-orang yang tidak
beriman.
Perhatikan firman-Nya ketika mengisahkan optimisme Nabi
Ya'qub untuk bertemu dengan dua putranya (Nabi Yusuf dan Bunyamin) yang sudah
lama tidak dijumpainya.
Seperti diketahui, Nabi Yusuf pernah dimasukkan ke dalam
sumur oleh saudara-saudaranya dan lantas dibiarkan sendiri sampai akhirnya ada
orang yang menyelamatkan Nabi yang berparas ganteng itu.
Kendati demikian, Nabi Ya'qub tak pernah frustrasi.
Optimisme Nabi Ya'qub itu tampak dalam ucapannya: "Hai anak-anakku,
pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS Yusuf [12]: 87).
Ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang Mukmin secara
kontinu apabila ingin memiliki kemampuan di dalam mengatasi masalah hidupnya.
Pertama, berusaha menjaga dan memelihara shalatnya dengan
sebaik-baiknya. Seorang Mukmin pun hendaknya berupaya menerapkan nilai dan
hikmah Islam di tengah-tengah kehidupannya.
Ada banyak bentuk penerapan itu, seperti kejujuran,
kebersihan, ketaatan, dan kasih sayang kepada sesama manusia--terutama dari
golongan yang lemah, fakir, dan miskin.
Kedua, seorang Mukmin mesti menyadari dengan
sungguh-sungguh, di balik tiap kesulitan akan selalu ada kemudahan. Ini tentu
asalkan ia tetap mau berikhtiar, mengerahkan kemampuan yang ada, disertai
dengan penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT.
Firman Allah dalam surah Alam Nasyrah [94]: 5-6, artinya,
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Mentalitas seorang mukmin Seorang Mukmin Bagaikan Lebah
Perumpamaan Seorang
Mukmin Bagaikan Lebah
Dari Abdullah bin Amru radhiallahu’anhu ia berkata,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang
baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya
patah dan rusak.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)
Itulah mukmin bagaikan lebah, ia hanya memakan yang halal
dan menjauhi makanan yang haram.
Ia selalu mengeluarkan ucapan dan perbuatan yang baik dan
bermanfaat sebagimana lebah yang mengeluarkan madu yang bermanfaat untuk
manusia.
Dimanapun ia berada, tak pernah berbuat kerusakan. Bahkan ia
menjadi pintu pintu pembuka kebaikan untuk manusia.
Ia selalu rajin berusaha dan tak pernah malas. Ulet dan tak
pernah menyerah. Bahkan ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain.
Penjelasan Ulama Tentangnya
Al Munawi rahimahullah berkata:
: “ووجه الشبه: حذق النحل، وفِطنته، وقلة أذاه، وحقارته، ومنفعته،
وقنوعه، وسعيه في النهار، وتنزُّهه عن الأقذار، وطيب أكله، وأنه لا يأكل مِن كسب غيره،
وطاعته لأميره، وأن للنحل آفاتٍ تقطعه عن عمله، منها: الظلمة، والغَيْم، والريح، والدخَان،
والماء، والنار، وكذلك المؤمن له آفات تُفقِره عن عمله؛ ظلمة الغفلة، وغَيْم الشك،
وريح الفتنة، ودخَان الحرام، ونار الهوى
“Sisi kesamaannya adalah bahwa lebah itu cerdas, ia jarang
menyakiti, rendah (tawadlu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qona’ah), bekerja
di waktu siang, menjauhi kotoran, makananya halal nan baik, ia tak mau makan
dari hasil kerja keras orang lain, amat taat kepada pemimpinnya, dan lebah itu
berhenti bekerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air dan api. Demikian
pula mukmin amalnya terkena penyakit bila terkena gelapnya kelalaian, mendungnya
keraguan, angin fitnah, asap haram, dan api hawa nafsu.” (Faidlul Qadiir,
5/115)
Ada Empat Karakter Lebah yang Seperti mentalitas seorang
mukmin
Sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala sebagaiman firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 68
:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang
di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia.” (QS. An-Nahl : 68)
Sifat-Sifat Lebah
Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya
yang bersih
Lebah hanya hinggap ditempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh
berbeda dengan lalat. Serangga yang lain amat mudah ditemui di tempat sampah,
kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah tidak, ia hanya akan
mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat bersih lainnya yang
mengandung bahan madu atau nektar.
Begitu lah pula sifat seorang mukmin, Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki
yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 172)
Mengeluarkan yang bersih
Lebah mengeluarkan madu, dan madu mempunyai khasiat
kesehatan untuk manusia. Dia produktif dengan kebaikan, dan hasilnya dapat
bermanfaat bagi mahluk lain. Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu
mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.
Tidak merusak
Seperti yang disebutkan di atas, lebah tidak pernah merusak
atau mematahkan ranting yang ia hinggapi. Begitu pula seorang mukmin,
setidaknya ia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apapun baik material
atau pun non-material.
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai untuk menyerang. Ia akan
menyerang hanya manakala merasa tergangggu atau terancam. Dan untuk
mempertahankan kehormatan umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya
ditubuh pihak yang diserang. Sifat ini pun setidaknya perlu dimiliki oleh
seorang mukmin.
Itulah karakter karakter lebah yang yang Seperti mentalitas
seorang mukmin.
Sungguh, tidaklah sia-sia Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut
dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Qur’an sebagai salah satu nama
surah, yaitu An-Nahl.
Perilaku adil,
sebagaimana disinggung di muka, merupakan salah satu tiket untuk mendapat
kepercayaan orang; untuk mendapatkan reputasi yang baik. Karena dengan reputasi
yang baik itulah kita akan memiliki otoritas untuk berbagi dan menyampaikan
nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dengan orang lain. Tanpa itu, kebaikan
apapun yang kita bagi dan sampaikan hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar
melalui telinga kanan. Karena, perilaku adil itu identik dengan konsistensi
antara perilaku dan perkataan.
Berlaku Adil
Dalam Islam
Setiap muslim hendaknya selalu bersikap adil terhadap siapa pun, bahkan terhadap non-muslim sekalipun (QS Mumtahanah: 60). Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al Hujurat: 9).
Berlaku Adil
Terhadap Sesama
Semakin besar
kuasa kita semakin besar kekuatan kita untuk berlaku adil sekaligus juga
semakin besar peluang kita untuk menjadi zalim alias melenceng jauh dari
keadilan.Hati yang suci akan menjadi perisai bagi perbuatan-perbuatan yang
tidak baik akhirnya kita akan dapat membentuk jiwa kembali kepada kesucian akan
membawa lurusnya niat dan keinginan suci lahir dan batin yang akan membawa
dampak kepada benarnya perbuatan sehingga terciptalah keadilan dalam segala
tingkah laku.
Abu al-Khair
Badar ad-Din bin Abu al- Ma’mar bin Ismail at-Tabrizi (636 H) pernah mengarang
kitab yang berjudul An-Nashihat li ar-Ra’i wa ar-Ra’yat. Kitab yang berisikan
wasiat-wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabat semasa hidup itu menegaskan
pentingnya sikap ideal bagi para pemimpin. Menurut analisis at-Tabrizi, fungsi
pemimpin adalah mengarahkan dan menjaga rakyat agar tetap berada dalam koridor
keadilan, keseimbangan, dan kesejahteraan, baik dunia maupun akhirat.
Penting bagi
setiap pemimpin menjelaskan perkara haram dan halal yang menyangkut ibadah dan
muamalat kepada mereka. Tugas serupa juga diemban oleh Rasulullah dan para
khalifah penggantinya. Selain menegakkan syiar agama, para khalifah tersebut
berkewajiban berbuat adil kepada seluruh elemen rakyat yang dipimpinnya.
At-Tabrizi
mengingatkan, dalam mengemban amanat dan menjalankan pemerintahan, pemimpin
yang mendapat kepercayaan rakyat harus mengedepankan prinsip keadilan. Sebab,
berbuat adil adalah pangkal segala keutamaan. Terwujudnya keadilan dalam sebuah
komunitas masyarakat akan menciptakan stabilitas nasional dan menyejahterakan
kehidupan rakyat.
Dengan keadilan,
keberlangsungan hidup orang banyak bisa terjaga dengan baik. Bahkan, keadilan
digunakan sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana rezim yang berkuasa bisa
memperoleh dukungan dan simpati dari rakyat, juga mampu menggapai rida dari
Sang Khalik.
Simak Ceramah tentang Berlaku Adil KH Zainuddin MZ
Contoh Perilaku
Adil Pada Diri Sendiri Adalah:
Melakukan
tindakan terbaik untuk diri sendiri
Membuat
peraturan untuk diri sendiri
Singkirkan
rasa takut pada orang lain
Tidak
menganggu orang lain
Menerima
pendapat orang lain
Menerapkan
rasa disiplin
Belajar
dengan rajin dan aktif di kelas
Menjaga
kebersihan sekolah
Berlaku Adil
Kepada Siapapun Merupakan Penerapan Pancasila Sila” Kemanusiaan yang
Berkeadilan & Berkeadaban”.
Pancasila merupakan Dasar Negara Indonesia. Pancasila memiliki lima sila yang dapat menjadi pedoman kehidupan manusia. Salah satunya adalah sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Menurut pandangan saya, sila kedua ini wajib dilaksanakan oleh semua warga negara Indonesia. Hal ini dikarenakan agar Indonesia dapat menegakkan keadilan dan dapat menghargai hak yang dimiliki oleh setiap manusia. Manusia harus berbuat adil terhadap diri sendiri dan orang lain, seperti kita harus menghargai setiap orang yang memiliki latar belakang yang berbeda yaitu suku, budaya, agama, atau status lainnya. Di Indonesia menerapkan sistem tidak ada perbedaan perlakuan terhadap semua masyarakat Indonesia.
Wasiat adalah pesan terakhir dari orang yang akan meninggal dunia, baik disampaikan secara lisan maupun secara tulisan. Pesan terakhir ini umumnya tertulis di surat wasiat yang mana isinya berkaitan dengan pembagian harta warisan serta pesan-pesan terakhir yang ditujukan kepada ahli waris atau orang-orang yang dikenal.
Pengertian lainnya wasiat Surat wasiat atau testamen ialah pernyataan sah yang penulisnya selaku pewasiat mencalonkan beberapa orang untuk mengurusi hartanya apabila pewasiat meninggal dunia. Wasiat juga dapat menentukan amanat wasiat yang hanya berlaku setelah kematian pewasiat.Wikipedia >>
Pengertian wasiat dalam islam
Wasiat adalah berpesan tentang suatu kebaikan yang akan dijalankan sesudah orang meninggal dunia. Wasiat berasal dari kata washa yang berarti menyampaikan atau memberi pesan atau pengampuan. Dengan arti kata lain, wasiat adalah harta yang diberikan oleh pemiliknya kepada orang lain setelah si pemberi meninggal dunia.
Menurut madzhab Maliki, wasiat adalah suatu akad yang menetapkankadar 1/3 sahaja bagi tujuan wasiat dan wasiat tersebut akan terlaksanasetelah berlakunya kematian pewasiat.26Muhammad Abu Zahrah telah memberi ulasan mengenai definisiwasiat yang telah dikemukakan oleh para fuqaha di atas dan berpendapatbahwa definisi tersebut tidak menyeluruh karena tidak merangkumi aspekpelepasan hak seperti berwasiatmelunaskan semua hutang, membuatpembagian harta pusaka kepada waris-waris terhadap baki harta yang telahdiwasiatkan dan sebagainya. Beliau berpandangan bahwa definisi yang lebihtepat adalah seperti dalam undang-undang wasiat mesir no.71 1946 dalamperkara 1 iaitu “menguruskan sesuatu peninggalan yang berkuatkuasa setelahberlaku kematian”. Definisi ini meliputi semua jenis wasiat sama ada wasiatwajib atau sunat dan ia juga merangkumi semua bentuk peninggalan si matisama ada berbentuk harta atau lainnyakarena lafaz “menguruskan” itumerangkumi semuanya.
Contoh Hukum Wasiat
Hukum wasiat tergantung kondisi orang yang menyampaikannya. Ketentuannya adalah:
1. Menyampaikan wasiat hukumnya wajib bagi orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat, hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.
2. Berwasiat hukumnya dianjurkan bagi orang yang memiliki harta berlimpah dan ahli warisnya hidup berkecukupan. Dia dianjurkan berwasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari jumlah itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.
3. Berwasiat dengan harta hukumnya makruh, jika hartanya sedikit dan ahli warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. Sebagian besar sahabat Radhiyallahu ‘anhum meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.” (HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani).
Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan mensucikanmu. Kedua, doa hamba- hambaku setelah engkau meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah, dhaif)
Demikian pula hadis yang yang mengisahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Syarat Sah Wasiat
Pertama, terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain mengurusi suatu hal, semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan; disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat adalah seorang Muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak terlaksana dengan baik.
Kedua, orang yang berwasiat berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.
Ketiga, isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia, atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura-hura atau acara maksiat lainnya.
Keempat, orang yang diberi wasiat bersedia menerima wasiat. Jika menolak, wasiat batal dan setelah penolakan orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.
Ketentuan Wasiat
Pertama, orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar, “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).
Kedua, tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari jumlah total kekayaan. Mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pe tiga atau setengah dari jumlah total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana kalau sepertiga, jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan ahli warismu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin lantas mereka mengemis-ngemis kepada banyak orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas, “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘sepertiga, akan tetapi sepertiga itu banyak’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari jumlah total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku ridho dengan dengan apa yang Allah ridhoi untuk dirinya, yaitu seperlima.” (Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44)
Kelima, larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku bagi orang yang memiliki ahli waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki ahli waris diperbolehkan berwasiat dengan seluruh hartanya.
Keenam, wasiat lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan manakala seluruh ahli waris menyetujuinya dan tidak mempermasalahkannya.
Ketujuh, tidak diperbolehkan (baca: haram) dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada ahli waris yang mendapatkan warisan meski dengan nominal kecil, kecuali jika seluruh ahli waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.” (HR. Abu Daud, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Kedelapan, jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan ternyata hanya disetujui oleh sebagian ahli waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya. Isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat, namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.
Pada kasus wasiat di bagian awal tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam, semua anak, baik dari isteri pertama maupun dari isteri kedua, memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik, kemudian dibagikan kepada seluruh anak, baik dari isteri pertama maupun isteri kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam, yakni anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak-anak perempuan. Allahu a’lam.
Cicak adalah hewan menjijikan yang tidak memberikan manfaat bagi manusia sehingga dalam islam disunnahkan untuk membunuhnya, makanya ayo bunuh cicak, karena berpahala. Banyak hadits yang membahas tentang sunnah dalam membunuh cicak. Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa Rosulullah mensunnahkan untuk membunuh cicak, mau tahu? mari kita simak penjelasannya.
Ini Sunnah! Ayo Bunuh Cicak, Karena Berpahala
Banyak hadits nabi yang menganjurkan untuk membunuh cicak. Kenapa cicak berpahala jika dibunuh? padahal keberadaan cicak dapat mengurangi populasi nyamuk. Berikut beberapa penjelasan seputar sunnah membunuh cicak.
1. Cicak merupakan binatang yang berbahaya bagi kesehatan dan tidak memiliki manfaat yang berarti bagi manusia, sehingga binatang ini dianjurkan untuk di bunuh.
2. Membunuh cicak merupakan suatu kesunnahan tanpa pengecualian, hal ini di jelaskan dari Ummu Syarik bahwa Rosul pernah memerintahkan untuk membunuh cicak karena hewan ini telah meniup dan memperbesar api yang telah membakar nabi Ibrahim. Selain itu, dari Abu Hurairah juga menjelaskan bahwa Rosul pernah menerangkan bahwa membunuh cicak dengan 1 kali pukulan berpahala lebih besar dari pada dengan pukulan kedua
3. Kotoran cicak mengandung bakteri yang berbahaya yaitu bakteri E. Coli yang dapat menimbulkan sakit perut dan bahkan keracunan makanan
Itulah beberapa penjelasn kesunnahan untuk membunuh cicak. Ada beberapa hikmah membunuh cicak yang dapat diambil, yaitu:
1. Mengikuti sunnah Rosul merupakan suatu kesempurnaan sebagai seorang muslim 2. Sesuatu yang kecil dan memiliki banyak kemudharatan wajib untuk disingkirkan 3. Terhindar dari berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang ada dalam kotoran cicak 4. Setiap umat muslim harus tunduk dengan syari’at karena manusia mempunyai keterbatasan fikiran 5. Perintah membunuh cicak merupakan suatu ujian bagi manusia, apakah manusia akan taat dengan ketetapan Allah atau malah mengedepankan pikiran mereka yang terbatas sehingga menolak perintah tersebut
Ayo Bunuh Cicak, Karena Berpahala, Tapi Dengan Cara yang Benar Cicak memiliki berbagai jenis dan bersarang di berbagai tempat yang berbeda-beda. Apa saja jenis cicak? Mari kita lihat daftarnya:
1. Cicak Kayu (Hemidactylus frenatus) Cicak jenis ini memiliki ekor bulat dan bertubuh kurus. Sesuai dengan namanya, jenis ini bertempat tinggal di tempat-tempat berkayu seperti pohon dan atap rumah kayu.
2. Cicak Gula (Gehyra mutilata) Cicak ini memiliki postur tubuh kurus dan berkulit agak transparan. Hewan ini biasa dijumpai di area dalam rumah seperti kamar mandi dan dapur untuk mencari gula
3. Cicak Tembok (Cosymbotus platyurus)
Cicak Tembok memiliki tubuh pipih dan berekor lebar. Hewan ini biasa menempel di sekitar tembok dan plafon rumah.
Dalam islam memang dianjurkan untuk membunuh cicak. Tidak hanya membunuhnya, kita juga harus melakukan pencegahan perkembangbiakannya dan dampak negatif bagi kesehatan. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Semprotkan pestisida di beberapa tempat disekitar rumah yang sering ditemukan cicak seperti atap rumah.
2. Basmi sumber makanan cicak yaitu nyamuk dengan menyemprotkan obat nyamuk. Sehingga dengan menurunnya jumlah populasi nyamuk maka secara langsung akan mengurangi jumlah populasi cicak.
3. Cucilah piring dan wadah yang telah digunakan dengan bersih
4. Bersihkan sisa makanan yang ada di meja
5. Simpanlah makanan di tempat yang benar-benar tertutup
6. Simpan barang berharga di tempat yang aman dan taruhlah hand phone dalam keadaan terbalik agar cicak tidak merayap pada layarnya
Cara diatas cukup mudah dilakukan di rumah untuk mengatasi masalah cicak. Ayo bunuh cicak, karena berpahala dan agar terhindar dari penyakit.
Nabi dan Rasul
adalah manusia-manusia pilihan yang bertugas memberi petunjuk kepada
manusia tentang keesaan Allah SWT dan membina mereka agar melaksanakan
ajaran-Nya. Ciri-ciri mereka dikemukakan dalam Al-Qur’an,
"... ialah orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah. Mereka
takut kepada-Nya dan mereka tiada takut kepada seorang (pun) selain
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan." (Q.S. Al Ahzab : 39).
Perbedaan
antara Nabi dan Rasul adalah : seorang Nabi menerima wahyu dari Allah
SWT untuk dirinya sendiri, sedangkan Rasul menerima wahyu dari Allah SWT
guna disampaikan kepada segenap umatnya. Para Nabi dan Rasul mempunyai 4
sifat wajib dan 4 sifat mustahil, serta satu sifat jaiz, yaitu :
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata." Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."
Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.
Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.
Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:"Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan."
Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Kisah Adam dalam Al-Quran.
Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25
Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam. Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.
Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.
Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.
Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,
laut-lautannya dan tumbuh - tumbuhannya, menciptakan langit dengan
mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan
malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk
beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan
hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah
s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan
mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola
kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun
waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.
Kekhawatiran Para Malaikat.
Para
malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya
menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah
menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian
mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang
mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:
"Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain
kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan
mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan
ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan
lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang
terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah
kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku
mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang
mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah
menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan
makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud
ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama
makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari
segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah
disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan
berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna
. Iblis Membangkang.
Iblis
membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat
yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi
makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa
yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis
merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena
ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan
lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan
merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang
lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena
kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang
diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan
mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan
laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia
dinyatakan sebagai penghuni neraka.
Iblis dengan sombongnya
menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya
diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di
hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai
hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian
jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai
sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan
malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut
untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya
menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal
yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama
dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah
engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi
neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya
menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh
hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh
rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan
memfitnah."
Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak
menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan
menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai
penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada
di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para
malaikat seraya:"Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu
benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para
malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama
benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan
mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak
memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan
kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha
Bijaksana."
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk
memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah
diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku
telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."
Adam Menghuni Syurga.
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan
baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman
hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan
fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa
diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah
kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa
sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan
siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"
Berkatalah
Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh
Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab
Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah
berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di
syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah
dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas
hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa
lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi
Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan
kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis
itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan
menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang
kamu sedang nikmat ini."
Saudaraku, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar, bahkan sampai bisikan paling halus sekalipun yang ada dalam hati manusia. Siapapun yang yakin bahwa Alloh Maha Mendengar, ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya.
Yang terpenting dari pembicaraan kita bukanlah kekaguman orang terhadap kita, melainkan keridhoan Alloh terhadap apa yang kita ucapkan. Kita tidak perlu mendahulukan kesibukan merangkai kata supaya dipandang pintar, terpelajar, hebat oleh orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga agar setiap ucapan kita niatnya benar dan bisa dipertanggung jawabkan.
Lebih baik berbicara dengan kata-kata yang sederhana, selamat dari rasa ingin dikagumi orang lain, daripada berbicara dengan kata-kata yang rumit, berbelit dengan rasa ingin dikagumi orang lain. Sumber : http://www.smstauhiid.com/aagym-menjaga-tutur-kata/
Karena Kampanyekan LGBT Ulama Karismatik Aa Gym,Himbau Stop Gunakan LINE
Daarul Muttaqiin - Dai kondang KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab dipanggil Aa Gym memutuskan untuk berhenti menggunakan aplikasi LINE setelah diketahui aplikasi jejaring sosial itu terang-terangan mendukung LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).
Lewat akun media sosial Twitter @aagym, dai asal Jawa Barat itu mengaku langsung berhenti menggunakan LINE. Aa Gym juga mengajak masyarakat untuk meninggalkan LINE dan beralih ke media sosial yang sehat.
"Saya stop menggunakan LINE karena terang terangan mempromosikan LGBT ... Ayoo pakai sosmed yang sehat saja," ujar Aa Gym lewat akun twitternya, Rabu (10/2/2016).
Ungkapan Aa Gym langsung menuai banyak respons dari pengguna Twitter. Terhitung sejak sejam di-posting, ciapan Aa Gym di-retweet lebih dari 300 dan disukai lebih dari 150 follower.
Adapun LINE adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti telepon cerdas, tablet, dan komputer. LINE difungsikan dengan menggunakan jaringan internet sehingga pengguna LINE dapat melakukan aktivitas seperti mengirim pesan teks, mengirim gambar, video, pesan suara, dan lain lain. LINE diklaim sebagai aplikasi pengirim pesan instan terlaris di 42 negara
Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”
Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”
Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.
Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”
Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
UMAR bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk (Khulafaur Rasyidin).
Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad S.A.W. yaitu Al-Faruk yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.
Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad SAW., Umar dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits “Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku.”
Umar juga dulunya dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas. Setelah masuk Islam, juga ada banyak sifat-sifat Umar yang sangat luar biasa. Di antaranya adalah:
1. Pemberani
Sifat pemberani adalah sifat dasar yang dimiliki Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Maka ketika beliau masuk Islam sifat pemberani ini beliau arahkan dalam membela da`wah Rasulullah SAW. Orang yang berani terang-terangan melakukan hijrah ke kota Madinah adalah Umar bin Khattab.
Beliau malah menantang orang-orang kafir Quraisy dengan perkataan `Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim maka halangilah saya untuk hijrah` dan tidak ada orang kafir Quraisy yang berani menghalangi Umar bin Khattab melaksanakan hijrah.
2. Sederhana
Umar adalah pribadi yang sederhana ketika telah masuk Islam. Hal ini bisa dibuktikan ketika beliau menjabat sebagai khalifah. Umar tidak pernah tinggal di sebuah istana, rumah mentereng ataupu gedung yang tinggi, tapi beliau tinggal di sebuah bangunan sederhana dekat mesjid, dan lebih sering berada di mesjid; bahkan beliau lebih sering tidur di atas pelepah kurma daripada kasur yang empuk. Atau ketika beliau tidak melebihkan harta rampasan (ghanimah) yang dibagikan diantara kaum muslimin.
Ketika kaum muslimin dapat bagian satu kain perorang untuk dibuat baju, maka Umar pun mengambil satu; dan itu tidak cukup untuk bahan baju beliau yang memiliki badan yang besar, maka sebagai jalannya ia meminta kepada anaknya Abdullah, agar bagian anaknya diberikan kepada Umar untuk dibuat sebuah baju.
Atau ketika ia berkunjung ke daerah taklukan, ia berjalan dengan memakai pakaian yang sederhana dan terkesan kusam, diiringi oleh Patrik Yerusalem, Sophronius menggambarkan kesederhanaan Umar; sungguh inilah kesehajaan dan kegetiran yang dikabarkan oleh Daniel sang nabi ketika ia berdiri di tempat suci ini.
3. Adil
Umar juga dikenal sebagai pemimpin yang adil. Hal ini dirasakan oleh seorang kakek Yahudi, yang rumahnya berda di dekat mesjid. Pada saat itu Gubernur Mesir `Amr bin `Ash akan melakukan pelebaran Mesjid, dan rumah orang Yahudi tersebut harus dibongkar. Dengan kebijakan ganti rugi `Amr bin `Ash merayu orang yahudi tersebut untuk pindah, namun dia enggan. Namun `Amr bin `Ash bersikeras untuk membongkar rumah tersebut. Maka orang Yahudi tersebut mendatangi Khalifah Umar dan menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
Maka Umar mengambil sebuah tulang dan membuat garis dengan pedang di atas tulang tersebut dan menyuruh orang Yahudi tersebut untuk membawa dan menyerahkannya kepada `Amr bin `Ash. Dengan penuh keheranan orang Yahudi tersebut pulang ke Mesir dan menghadap kepada `Amr bin `Ash sambil menyerahkan tulang yang diberikan oleh Umar bin Khattab. Ketika `Amr bin `Ash menerima tulang tersebut pucatlah wajah beliau dan menyuruh para pengawalnya untuk menghentikan pembongkaran. Dengan penuh keheranan orang Yahudi tersebut bertanya kepada `Amr bin `Ash tentang apa yang terjadi.
Maka `Amr menjawab bahwa Umar telah mengingatkan aku sebagai seorang pemimpin yang harus berlaku adil terhadap rakyatnya. Maka kagumlah orang Yahudi tersebut maka ia masuk Islam dan merelaka rumahnya untuk dibongkar.
4. Tegas
Salah satu bentuk ketegasan Umar bin Khattab adalah ketika beliau memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang dengan pemikiran bahwa Umar merasa takut kalaulah umat Islam terlalu mendewakan Khalid bin Walid yang telah berhasil memimpin pasukannya meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran; dan hal itu diterima dengan lapang dada oleh Khalid bin Walid.
5. Loyalitas Tinggi
Umar adalah orang yang memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap Allah, Rasulullah saw, dan agama Islam. Kecintaan terhadap Allah SWT dan agama Islam beliau buktikan dengan menginfakkan setengah harta beliau untuk da`wah Rasulullah saw. Dan yang paling mengharukan rasa cinta beliau adalah bagaimana ia tidak menerima kematian Rasulullah saw; sampai ia menghalangi persiapan penguburan dan mengancam orang yang berkata Rasulullah telah meninggal maka ia akan menemui ajalnya.
Para sahabat pun merasa kebingungan dengan keadaan seperti ini. Hal ini sampai ke telinga Abu Bakar, maka beliau berkata `Barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh dia telah meninggal; tapi barang siapa yang menyembah Allah SWT, maka Dia itu hidup selamanya takkan pernah mati`; kemudian beliau membaca surat Ali-imran ayat 144. Mendengar itu Umar tersadar dan menitikkan air mata pertanda kesedihannya.
6. Tanggung Jawab
Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Hal ini dibuktikan ketika beliau selalu berpatroli mengontrol rakyatnya sambil memikul keperluan rakyatnya. Pernah suatu waktu beliau melihat seorang ibu yang sedang membohongi anaknya yang kelaparan dengan pura-pura menanak beras, padahal batu yang ada dalam wadah tersebut. Melihat hal tersebut Umar mengambil gandum dan beliau pikul sendiri.
Ketika pengawalnya menawarkan untuk memikulnya, maka Umar berkata `Apakah kamu akan menjerumuskan aku ke dalam neraka karena telah menelantarkan rakyatku dan membiarkannya kelaparan? Itu adalah salah satu bukti sifat tanggung jawab Umar sebagai seorang pemimpin.